Kamis, 08 Desember 2011

Budidaya Bawang Merah


Salah satu komoditas hortikultura yang banyak dibudidayakan masyarakat Indonesia adalah Bawang merah (allium ascalonicum). Banyaknya manfaat yang dapat diambil dari bawang merah dan tingginya nilai ekonomi yang dimiliki sayuran ini, membuat para petani di berbagai daerah
tertarik pada budidaya bawang merah untuk mendapatkan keuntungan besar dari potensi bisnis tersebut.
Budidaya bawang merah memang memberikan keuntungan cukup besar bagi para petaninya. Mengingat saat ini kebutuhan pasar akan bawang merah semakin meningkat tajam, seiring dengan meningkatnya jumlah pelaku bisnis makanan yang tersebar di berbagai daerah. Kondisi ini terjadi karena bawang merah sering dimanfaatkan masyarakat untuk bahan baku pembuatan bumbu masakan, dan menjadi bahan utama dalam proses produksi bawang goreng yang sering digunakan sebagai pelengkap berbagai menu kuliner.
Berikut salah satu cara untuk budidaya bawang merah :
Pemilihan Bibit
Pada Budidaya bawang merah pemilihan bibit sangatlah penting, untuk menghasilkan tunas yang baik, bibit bawang merah yang dipilih : yang sehat, warna mengkilat, kompak/tidak keropos, kulit tidak luka dan telah disimpan 2-3 bulan setelah panen.
Kultivar atau Varietas 
Varietas yang dianjurkan pada budidaya bawang merah adalah :
- Untuk dataran rendah : Kuning, Bima Brebes, Bangkok, Kuning Gombong, Klon No. 33, Klon No. 86.
- Untuk dataran mediun atau tinggi : Sumenep, Menteng, Klon No. 88, Klon No. 33, Bangkok2.
Bedengan/Tanggul
Teknis Pembuatan bedengan untuk pertanaman bawang merah dilakukan sebagai berikut :
- Pada Lahan bekas sawah Dibuat bedengan dengan lebar 1.50-1.75 m. Diantara bedengan dibuat parit dengan lebar 0.5 m dan kedalaman 0.5 m. Tanah di atas bedengan dicangkul sedalam 20 cm sampai gembur
- Pada Lahan kering Tanah dicangkul atau dibajak sedalam 20 cm sampai gembur. Dibuat bedengan dengan lebar 1.20 m dan tinggi 25 cm. Jarak tanam bawang merah pada musim kemarau 15x15 cm atau 15x20 cm, sedang pada musim hujan 15x20 cm atau 20x20 cm. Jika pH tanah kurang dari 5.6, dilakukan pengapuran dengan menggunakan Kaptan atau Dolomit minimal 2 minggu sebelum tanam dengan dosis 1-1.5 ton/ha.
Pemupukan
Pupuk dasar diberikan 1 minggu sebelum tanam yaitu 15-20 ton/ha pupuk kandang atau 5-10 ton/ha kompos matang ditambah 200 kg/ha TSP. Pupuk disebar dan diaduk rata sedalam lapisan olah. (dianjurkan dengan menggunakan pupuk organik)
Cara Tanam
Jika umur simpan bibit yang akan ditanam kurang dari 2 bulan, dilakukan pemogesan (pemotongan ujung umbi) kurang lebih 0.5 cm untuk memecahkan masa dormansi dan mempercepat pertumbuhan tunas tanaman. Kemudian umbi bibit ditanam dengan cara membenamkan seluruh bagian umbi.
Penyiraman
Penyiraman dilakukan sesuai dengan umur tanaman :
- umur 0-10 hari, 2 x/hari (pagi dan sore hari) - umur 11-35 hari, 1 x/hari (pagi hari)
- umur 36-50 hari, 1 x/hari (pagi atau sore hari)
Penyiangan
Penyiangan minimal dilakukan dua kali/musim, yaitu menjelang dilakukannya pemupukan susulan.
Hama dan Penyakit
a. Hama ulat bawang (Spodoptera spp).
Serangan hama ini ditandai dengan bercak putih transparan pada daun.
Pengendaliannya adalah :
- Telur dan ulat dikumpulkan lalu dimusnahkan
- Pasang perangkap ngengat (feromonoid seks) ulat bawang 40 buah/ha
- Jika intensitas kerusakan daun lebih besar atau sama dengan 5 % per rumpun atau telah ditemukan 1 paket telur/10 tanaman, dilakukan penyemprotan dengan insektisida efektif
b. Hama trip (Thrips sp.)
Gejala serangan hama thrip ditandai dengan adanya bercak putih beralur pada daun.
Penanganannya dengan penyemprotan insektisida efektif
c. Penyakit layu Fusarium
Ditandai dengan daun menguning, daun terpelintir dan pangkal batang membusuk. Jika ditemukan gejala demikian, tanaman dicabut dan dimusnahkan.
d. Penyakit otomatis atau antraknose
Gejalanya : bercak putih pada daun, selanjutnya terbentuk lekukan pada bercak tersebut yang menyebabkan daun patah atau terkulai.
Untuk mengatasinya, semprot dengan fungisida
e. Penyakit trotol
Ditandai dengan bercak putih pada daun dengan titik pusat berwarna ungu.
Gunakan fungisida efektif untuk membasminya.
Panen dan Pasca Panen 
- Untuk bawang konsumsi, waktu panen ditandai dengan 60-70% daun telah rebah, sedangkan untuk bibit kerebahan daun lebih dari 90%. Panen dilakukan waktu udara cerah. Pada waktu panen, bawang merah diikat dalam ikatan-ikatan kecil (1-1.5 kg/ikat), kemudian dijemur selama 5-7 hari).
- Setelah kering "askip" (penjemuran 5-7 hari), 3-4 ikatan bawang merah diikat menjadi satu, kemudian bawang dijemur dengan posisi penjemuran bagian umbi di atas selama 3-4 hari. Pada penjemuran tahap kedua dilakukan pembersihan umbi bawang dari tanah dan kotoran. Bila sudah cukup kering (kadar air kurang lebih 85 %), umbi bawang merah siap dipasarkan atau disimpan di gudang.

0 komentar:

Poskan Komentar